Rabu, 07 April 2021

 Makalah Mata Kuliah ESDH                                                                                       Medan,  April 2021

ANALISIS EKONOMI HUTAN MANGROVE DI TELUK KOTANI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT

 

 

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh:

VIKA DIAN NITAMI NASUTION

191201009

HUT 4A












 


 

 

 

 


PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021




KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa,  karena atas berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan baik. Makalah Ekonomi Sumberdaya Hutan  yang berjudul ” Analisis Ekonomi Hutan Magrove di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat” ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Silvikultur sebagai syarat masuk Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab Managemen Hutan yaitu Bapak Dr. Agus Purwoko,S.Hut.,M.Si karena telah memberikan materi dengan baik dan benar. Penulis menyadari bahwa makalah  ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi makalah ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

 

 

                         Medan,   April 2021

 

 

                                                                                                               Penulis

 

 

 

 

DAFTAR ISI

    Halaman

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ......................................................................................................1

1.2. Tujuan ...................................................................................................................2

BAB II ISI

2.1. Manfaat dan Biaya ................................................................................................3

2.2. Nilai Manfaat ........................................................................................................3

2.3.BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan ...........................................................................................................6

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 






BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar belakang

Hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya hutan yang cukup potensial yang memiliki peranan sangat strategis dalam dinamika ekosistim pesisir dan laut terutama perikanan pantai. Pada pemeliharaan dan pengelolaan ekosistem mangrove tersebut menjadi salah satu alasan untuk tetap mempertahankan keberadaan ekosistemnya.

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir dan lautan yang sangat berpotensi bagi kesejahteraan manusia baik dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, Pada keberadaan hutan mangrove tersebut sudah semakin kritis keadaannya. Di beberapa wilayah pesisir di Indonesia sudah terlihat adanya degradasi atau penurunan dari hutan mangrove akibat penebangan hutan mangrove yang melampaui batas kelestariannya. Areal hutan mangrove telah diubah untuk berbagai kegiatan pembangunan seperti perluasan areal pemukiman, perluasan areal pertanian, pengembangan budidaya tambak, pembangunan dermaga dan lain sebagainya.

Ekosistem hutan mangrove yang mengalami kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas ekonomi penduduk diantaranya bercocok tanam, budidaya rumput laut dan tambak ikan tersebut perlu dilakukan upaya pelestarian ekosistem hutan mangrove oleh pemerintah dan masyarakat. Berbagai cara yang dapat dilakukan seperti : konservasi, reboisasi, dan rehabilitasi hutan mangrove. Upaya pelestarian ekosistem hutan mangrove yang dilakukan oleh pemerintah biasanya dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementrian Kelautan dan Perikanan maupun dari Pemerintah daerah setempat yang didukung oleh masyarakat yang berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan alam.

Ekosistem hutan mangrove sering dianggap sebagai sumberdaya milik umum yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja tanpa memperhatikan aspek kelestariannya. Pemanfaatan yang berlebihan mengakibatkan sumberdaya hutan mangrove semakin menipis dan kemampuan ekosistem untuk menyediakan jasa-jasa lingkungan semakin menurun. Masih redahnya pengetahuan masyarakat lokal terhadap potensi hutan mangrove sebagai sumber ekonomi, maka perlu dilakukan penilaian (Valuasi) ekonomi terhadap besarnya manfaat dan fungsi hutan mangrove.

Pola pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat kurang memperhatikan aspek kelestarian dan pemanfaatannya. Kondisi saat ini menunjukan ekosistem hutan mangrove sudah terancam rusak karena berbagai aktivitas sosial ekonomi masyarakat, diantaranya yaitu adanya peningkatan jumlah penduduk sehingga timbul adanya perluasan lahan untuk pemukiman, sarana ibadah dan pendidikan serta kegiatan perekonomian lainnya seperti perluasan lahan pertanian.

Rehabilitasi hutan mangrove memiliki dampak yang sangat positif bagi kehidupan manusia terutama masyarakat di sekitar hutan mangrove. Alam dan sumberdaya di dalamnyya termasuk hutan mangrove akan memberikan nilai ekonomi dan manfaat yang sangat penting bagi manusia jika manusia memperlakukannya dengan baik. Upaya rehabilitasi mangrove merupakan upaya perlakuan yang baik dari manusia terhadap alam. Selain itu, rehabilitasi mangrove akan berpengaruh terhadap peningkatan nilai ekonomi total hutan mangrove dari areal mangrove yang telah direhabilitasi.

Wilayah perairan Teluk Kotania dikenal sebagai salah satu wilayah potensial perikanan di Kabupaten Seram Bagian Barat yang merupakan suatu wilayah perairan yang berbentuk teluk, dengan memiliki potensi sumberdaya laut yang khas seperti ekosistem mangrove, padang lamun, terumbu karang pada satu lokasi yang berdekatan dengan keanekaragaman dan kekayaan biota yang tinggi. Menurut Pramudji (1998), ekosistem mangrove bersama dengan padang lamun dan terumbu karang di perairan Teluk Kotania membentuk suatu kesatuan ekosistem yang sangat kompleks, serta merupakan salah satu kekayaan nutfah dan keanekaragaman hayati yang memiliki produktifitas yang tinggi.

1.2.Tujuan

          Untuk menganalisi Nilai Ekonomi Total hutan mangrove di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat.

 

 



BAB II

ISI

 

2.1. Manfaat dan Biaya

Manfaat dan biaya dilakukan untuk seluruh jenis fungsi dan manfaat sumberdaya mangrove. Dalam mentransformasi nilai-nilai ekonomi sumberdaya mangrove, menurut Ruitenbbek (1991) dan Bann (1998) dapat dilakukan sebagai berikut: (1) mengidentifikasi manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove; (2) mengkuantifikasi manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove ke dalam nilai uang.

Mengidentifikasi manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove. Analisis ekonomi hanya dilakukan terhadap nilai manfaat langsung (direct use value) dan manfaat tidak langsung serta TEV hutan mangrove. Nilai manfaat langsung hutan mangrove adalah nilai manfaat yang langsung diperoleh dari suatu sumberdaya mangrove. Total manfaat langsung dapat dihitung dengan menjumlahkan semua manfaat langsung tersebut.

2.2.Nilai Manfaat

Untuk Mengidentifikasi manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove ada beberapa nilai Manfaat, diantaranya manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat tidak langsung adalah nilai yang dirasakan secara tidak langsung terhadap barang dan jasa yang dihasilkan sumberdaya dan lingkungan (Fauzi, 2002). Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove diperoleh dari suatu ekosistem secara tidak langsung seperti penahan abrasi pantai dan penyedia bahan organik bagi biota-biota yang hidup didalamnya.

Manfaat pilihan adalah suatu nilai yang menunjukan kesediaan seseorang untuk membayar guna melestarikan ekosistem mangrove bagi pemanfaatan di masa depan, (Fahrudin, 1996). Nilai ini didekati dengan mengacu pada nilai keanekaragaman hayati (biodiversity) hutan mangrove di Indonesia, yaitu US$ 1.500/km2 /tahun atau US$15/ha/tahun (Ruitenbeek, 1991 dalam Fahrudin 1996).

Nilai manfaat ekonomi total dari hutan mangrove merupakan penjumlahan dari seluruh nilai ekonomi dari manfaat hutan mangrove yang telah diidentifikasi dan dikuantifikasikan. Mengkuantifikasi manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove ke dalam nilai uang. Pendekatan nilai pasar digunakan untuk komoditi.





BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Fauzi (2002) menyatakan nilai ekonomi adalah pengkuran jumlah maksimum seseorang ingin mengorbankan barang dan jasa untuk memperoleh barang jasa lainnya. Secara formal konsep ini disebut sebagai keinginan membayar (willingness to pay) seseorang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan. Dengan menggunakan pengukuran ini, nilai ekologis dari ekosistem bisa diterjemahkan ke dalam bahasa ekonomi dengan mengukur nilai moneter dari barang dan jasa. Sebagai contoh jika ekosistem pantai mengalami kerusakan akibat polusi maka nilai yang hilang akibat degradasi lingkungan bisa diukur dari keinginan seseorang untuk membayar agar lingkungan tersebut kembali ke aslinya atau mendekati aslinya.

Hutan mangrove kawasan Teluk Kotania memiliki potensi ekonomi sumberdaya alam yang besar. Potensi tersebut dapat dilihat dari besarnya Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) sumberdaya alam. Penelitian serta konservasi laut dan pesisir harus dilakukan secara lebih menyeluruh dan dinamik dibandingkan dengan pengelolaan bertahap karena besarnya keterbukaan ekosistem, sifat alam dan keterkaitan obyek-obyek yang melekat pada mangrove.

            Jumlah produksi Ikan Kerapu yang ada disekitar kawasan Teluk Kotania yaitu 92 kg/bulan dengan harga jual pasar Rp. 50 000,-/kg. Total nilai produksi/tahunnya dari Ikan Kerapu di kawasan Teluk Kotania sebesar Rp. 55.200. 000,- Sedang Ikan Samandar yaitu 92 kg/bln dengan harga jual pasar Rp. 30.000,-/kg total nilai produksi Ikan samandar dalam 1 Tahun Rp. 33.120.000,-. Di kawasan Teluk Kotania dapat juga dijumpai biota laut lainnya yaitu Kepiting Bakau, Kepiting ini di pasaran dibagi dalam beberapa kelas komoditi sesuai dengan ukuran kepiting tersebut mulai dari Kepiting Kelas 1 (Super) sampai dengan Kepiting Kelas 5 ( Kacangkacang). Kepiting kelas 1 (Super) jumlah produksi tiap bulannya yaitu 46 kg sehingga Total harga produksi per tahun sebesar Rp. 55.200.000,- 

    Sedangkan untuk Kepiting Kelas 5 (Kacangkacang) dengan jumlah produksi perbulan adalah sebesar 69 kg dengan harga jual di pasaran udang yang dijual yaitu Rp. 30 000,-/kg, sehingga total nilai produksi udang yaitu sebesar Rp. 24.840.000,-/tahun. Selain ikan dan kepiting ada juga biota laut yang merupakan Nilai guna langsung yaitu Lobster. Walaupun jenis biota laut ini tidak sering menjadi bahan tangkapan nelayan di kawasan Teluk Kotania karena populasinya tidak sebanyak ikan dan kepiting. Jumlah produksi lobster selama 1 bulan adalah 10 kg, dengan harga jual di pasaran sebesar Rp. 450.000,- / kg sehingga Total nilai produksi Lobster selama 1 Tahun yaitu sebesar Rp. 54.000.000,-. Dengan demikian maka Total jumlah nilai produksi hutan mangrove dalam 1 (satu ) tahun sebesar Rp. 167.160.000,-

Sedangkan Nilai Ekowisata diduga dengan menggunakan metode biaya perjalanan wisata, yang meliputi biaya transport pulang pergi dari tempat tinggal ke tempat wisata serta pengeluaran lainnya selama di perjalanan dan biaya makan jika diasumsikan pengunjung selama setahun 2.520 orang, maka perhitungan biaya rekreasi selama 1 tahun adalah sebagai berikut : Rata – rata biaya rekreasi = Rp. 12.600.000,- / 210 orang = Rp. 60.000,-/ orang kunjungan.

Intrusi air laut dapat terjadi secara alami melalui proses abrasi dan sedimentasi. Selain itu, berbagai bentuk kegiatan manusia seperti pengambilan batu karang, penebangan hutan bakau, pembuatan tambak, pembukaan lahan pemukiman dan pengambilan air tanah yang tidak terkontrol juga menjadi penyebab utama terjadinya intrusi air laut (Alfian 2004). Di Teluk Kotania berbagai kegiatan yang dapat menyebabkan terjadi intrusi air laut yang disebabkan oleh aktivitas manusia itu kecil kemungkinannya. Hal ini disebabkan karena frekuensi kegiatan manusia yang dilakukan di dalam kawasan hutan sangat sedikit. Intrusi yang terjadi di kawasan hutan mangrove Teluk Kotania sebagian besar terjadi secara alami. Fungsi fisik sebagai pemecah gelombang ini dapat didekati dengan cara menghitung biaya yang dilakukan untuk membangun Pengamanan pantai disepanjang pantai yang dilindungi hutan mangrove.

Nilai pilihan hutan mangrove diestimasi dengan menggunakan metode Benefit Transfer. Metode tersebut didekati dengan cara menghitung besarnya nilai keanekaragaman hayati (biodiversity) yang ada di ekosistem hutan mangrove. Menurut Ruitenbeek (1991) dalam Fahruddin (1996) nilai keanekaragaman hayati (biodiversity) hutan mangrove di Indonesia, yaitu US$ 1 500/km2 atau US$ 15/ha/tahun. Estimasi nilai guna pilihan dari hutan mangrove yaitu dengan mengalikan nilai biodiversitas dengan luas hutan mangrove di pesisir pantai. Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dengan nilai jual sebesar Rp. 14.212,- sedangkan nilai beli 14.070,- sehingga rata – rata nilai tukar dolar terhadap rupiah adalah Rp. 14.141,- ( pada Juni 2019 ). Nilai pilihan hutan mangrove Teluk Kotania berdasarkan kurs rupiah terhadap dolar adalah sebesar Rp. 212.155,-/ tahun, di kali dengan luas hutan mangrove di Teluk Kotania yang berdasarkan klasifikasi unsupervised dari citra satelit Landsat 8 path 109 row 62 sebesar : 771,07 ha. Maka nilai pilihan hutan mangrove adalah sebesar: Rp.163.586.356,

   



BAB IV

PENUTUP

 

Kesimpulan

     Besarnya Nilai ekonomi Hutan mangrove di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat adalah sebagai berikut: manfaat langsung sebesar manfaat langsung Rp.318.360.000,-/tahun (44%), manfaat tidak langsung Rp. 243.468.473,-/ tahun (34 %), manfaat pilihan Rp. 163.586.356,-/ tahun ( 22%) sedangkan TEV-nya sebesar Rp. 725.414.829,-/tahun.

 

 


 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, C ., Gunawan, H. 2006. Peranan Ekologis dan Sosial Ekonomi Hutan Mangove dalam mendukung Pembangunan Wilah Pesisir Pada Kelti Konservasi Sumberdaya Alam Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor. Bogor.

 

Alfian, M. 2004. Valuasi Ekonomi Konservasi Hutan Mangrove untuk Budidaya Tambak di Kecamatan Tinanggea Sulawesi Tenggara (Tesis). Bogor. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

 

Fadhlan, M. 2010. Pengaruh Aktivitas Penduduk Terhadap Tingkat Kerusakan Ekosistem Hutan Mangrove di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan (Skripsi). Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

 

Fahrudin, A. 1996. Analisis Ekonomi Pengelolan Pesisir Kabupaten Subang. Jawa Barat. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

 

Hiariey, S. L. 2009. Identifikasi Nilai Ekonomi Ekosistim Hutan Mangrove di Desa Tawiri, Uniersitas Terbuka.

 

Pattimahu, D. V. 2010. Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Disertasi Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

 

Pramudji, 1998. Telaah Ekologi Mangrove di daerah Tawiri, Teluk Ambon. Teluk Ambon II: Biologi, Perikanan, Oseanografi dan Geologi. Balai Penelitian dan Pengembangan Sumber daya Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
 Indonesia .hal 45-52.

 

Ruitenbeek, H.J. 1991. Magrove management, An economic analysis of management option with a focus on Bituni Bay, Irian Jaya. Environmental Management Development in Indonesia (EMD) Project. EMDI Environmental. Reports No. 8. Jakarta.

 

Suib, L.R., Hutabarat, W. 2016. Analisis Aktivitas Ekonomi Penduduk Terhadap Kerusakan Ekosistim Hutan Mangrove di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Laporan Penelitian, Universitas Negeri Medan.