EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN
Selasa, 18 Mei 2021
Rabu, 07 April 2021
Makalah Mata Kuliah ESDH Medan, April 2021
ANALISIS EKONOMI HUTAN MANGROVE
DI TELUK KOTANI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut.,
M.Si
Disusun Oleh:
VIKA DIAN NITAMI NASUTION
191201009
HUT 4A
|
|
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan
kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
Makalah Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan baik. Makalah Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul ” Analisis
Ekonomi Hutan Magrove di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat” ini
dimaksudkan untuk memenuhi tugas Silvikultur
sebagai syarat
masuk Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan,
Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
penanggungjawab Managemen Hutan yaitu Bapak Dr.
Agus Purwoko,S.Hut.,M.Si karena telah memberikan materi dengan baik dan
benar. Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi
maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman
penulis. Oleh
karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki
isi makalah ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi
siapapun yang membacanya.
Medan, April 2021
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ......................................................................................................1
1.2. Tujuan ...................................................................................................................2
BAB II ISI
2.1. Manfaat dan Biaya ................................................................................................3
2.2. Nilai Manfaat ........................................................................................................3
2.3.BAB
III PENUTUP
3.1. Kesimpulan ...........................................................................................................6
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Hutan mangrove merupakan salah satu
sumberdaya hutan yang cukup potensial yang memiliki peranan sangat strategis
dalam dinamika ekosistim pesisir dan laut terutama perikanan pantai. Pada pemeliharaan dan pengelolaan ekosistem mangrove tersebut menjadi salah
satu alasan untuk tetap mempertahankan keberadaan ekosistemnya.
Hutan mangrove merupakan salah satu
ekosistem wilayah pesisir dan lautan yang sangat berpotensi bagi kesejahteraan
manusia baik dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, Pada keberadaan
hutan mangrove tersebut sudah semakin kritis keadaannya. Di beberapa wilayah
pesisir di Indonesia sudah terlihat adanya degradasi atau penurunan dari hutan
mangrove akibat penebangan hutan mangrove yang melampaui batas kelestariannya.
Areal hutan mangrove telah diubah untuk berbagai kegiatan pembangunan seperti
perluasan areal pemukiman, perluasan areal pertanian, pengembangan budidaya
tambak, pembangunan dermaga dan lain sebagainya.
Ekosistem hutan mangrove yang mengalami
kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas ekonomi penduduk diantaranya bercocok
tanam, budidaya rumput laut dan tambak ikan tersebut perlu dilakukan upaya
pelestarian ekosistem hutan mangrove oleh pemerintah dan masyarakat. Berbagai
cara yang dapat dilakukan seperti : konservasi, reboisasi, dan rehabilitasi
hutan mangrove. Upaya pelestarian ekosistem hutan mangrove yang dilakukan oleh
pemerintah biasanya dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Kementrian Kelautan dan Perikanan maupun dari Pemerintah daerah setempat yang
didukung oleh masyarakat yang berpartisipasi dalam menjaga kelestarian
lingkungan alam.
Ekosistem hutan mangrove sering dianggap
sebagai sumberdaya milik umum yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja tanpa
memperhatikan aspek kelestariannya. Pemanfaatan yang berlebihan mengakibatkan
sumberdaya hutan mangrove semakin menipis dan kemampuan ekosistem untuk
menyediakan jasa-jasa lingkungan semakin menurun. Masih redahnya pengetahuan
masyarakat lokal terhadap potensi hutan mangrove sebagai sumber ekonomi, maka
perlu dilakukan penilaian (Valuasi) ekonomi terhadap besarnya manfaat dan
fungsi hutan mangrove.
Pola pemanfaatan hutan mangrove oleh
masyarakat di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat kurang memperhatikan
aspek kelestarian dan pemanfaatannya. Kondisi saat ini menunjukan ekosistem
hutan mangrove sudah terancam rusak karena berbagai aktivitas sosial ekonomi
masyarakat, diantaranya yaitu adanya peningkatan jumlah penduduk sehingga
timbul adanya perluasan lahan untuk pemukiman, sarana ibadah dan pendidikan
serta kegiatan perekonomian lainnya seperti perluasan lahan pertanian.
Rehabilitasi hutan mangrove memiliki
dampak yang sangat positif bagi kehidupan manusia terutama masyarakat di
sekitar hutan mangrove. Alam dan sumberdaya di dalamnyya termasuk hutan
mangrove akan memberikan nilai ekonomi dan manfaat yang sangat penting bagi
manusia jika manusia memperlakukannya dengan baik. Upaya rehabilitasi mangrove
merupakan upaya perlakuan yang baik dari manusia terhadap alam. Selain itu,
rehabilitasi mangrove akan berpengaruh terhadap peningkatan nilai ekonomi total
hutan mangrove dari areal mangrove yang telah direhabilitasi.
Wilayah perairan Teluk Kotania dikenal
sebagai salah satu wilayah potensial perikanan di Kabupaten Seram Bagian Barat
yang merupakan suatu wilayah perairan yang berbentuk teluk, dengan memiliki
potensi sumberdaya laut yang khas seperti ekosistem mangrove, padang lamun,
terumbu karang pada satu lokasi yang berdekatan dengan keanekaragaman dan
kekayaan biota yang tinggi. Menurut Pramudji (1998), ekosistem mangrove bersama
dengan padang lamun dan terumbu karang di perairan Teluk Kotania membentuk
suatu kesatuan ekosistem yang sangat kompleks, serta merupakan salah satu
kekayaan nutfah dan keanekaragaman hayati yang memiliki produktifitas yang
tinggi.
1.2.Tujuan
Untuk menganalisi Nilai Ekonomi Total
hutan mangrove di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat.
BAB II
ISI
2.1. Manfaat
dan Biaya
Manfaat
dan biaya dilakukan untuk seluruh jenis fungsi dan manfaat sumberdaya mangrove.
Dalam mentransformasi nilai-nilai ekonomi sumberdaya mangrove, menurut
Ruitenbbek (1991) dan Bann (1998) dapat dilakukan sebagai berikut: (1)
mengidentifikasi manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove; (2) mengkuantifikasi
manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove ke dalam nilai uang.
Mengidentifikasi
manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove. Analisis ekonomi hanya dilakukan
terhadap nilai manfaat langsung (direct use value) dan manfaat tidak langsung
serta TEV hutan mangrove. Nilai manfaat langsung hutan mangrove adalah nilai
manfaat yang langsung diperoleh dari suatu sumberdaya mangrove. Total manfaat
langsung dapat dihitung dengan menjumlahkan semua manfaat langsung tersebut.
2.2.Nilai Manfaat
Untuk
Mengidentifikasi manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove ada beberapa nilai
Manfaat, diantaranya manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat tidak
langsung adalah nilai yang dirasakan secara tidak langsung terhadap barang dan
jasa yang dihasilkan sumberdaya dan lingkungan (Fauzi, 2002). Manfaat tidak
langsung dari hutan mangrove diperoleh dari suatu ekosistem secara tidak
langsung seperti penahan abrasi pantai dan penyedia bahan organik bagi
biota-biota yang hidup didalamnya.
Manfaat
pilihan adalah suatu nilai yang menunjukan kesediaan seseorang untuk membayar
guna melestarikan ekosistem mangrove bagi pemanfaatan di masa depan, (Fahrudin,
1996). Nilai ini didekati dengan mengacu pada nilai keanekaragaman hayati
(biodiversity) hutan mangrove di Indonesia, yaitu US$ 1.500/km2 /tahun atau
US$15/ha/tahun (Ruitenbeek, 1991 dalam Fahrudin 1996).
Nilai
manfaat ekonomi total dari hutan mangrove merupakan penjumlahan dari seluruh
nilai ekonomi dari manfaat hutan mangrove yang telah diidentifikasi dan
dikuantifikasikan. Mengkuantifikasi manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove ke
dalam nilai uang. Pendekatan nilai pasar digunakan untuk komoditi.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Fauzi
(2002) menyatakan nilai ekonomi adalah pengkuran jumlah maksimum seseorang
ingin mengorbankan barang dan jasa untuk memperoleh barang jasa lainnya. Secara
formal konsep ini disebut sebagai keinginan membayar (willingness to pay) seseorang
terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan.
Dengan menggunakan pengukuran ini, nilai ekologis dari ekosistem bisa
diterjemahkan ke dalam bahasa ekonomi dengan mengukur nilai moneter dari barang
dan jasa. Sebagai contoh jika ekosistem pantai mengalami kerusakan akibat
polusi maka nilai yang hilang akibat degradasi lingkungan bisa diukur dari
keinginan seseorang untuk membayar agar lingkungan tersebut kembali ke aslinya
atau mendekati aslinya.
Hutan
mangrove kawasan Teluk Kotania memiliki potensi ekonomi sumberdaya alam yang
besar. Potensi tersebut dapat dilihat dari besarnya Nilai Ekonomi Total (Total
Economic Value) sumberdaya alam. Penelitian serta konservasi laut dan pesisir
harus dilakukan secara lebih menyeluruh dan dinamik dibandingkan dengan
pengelolaan bertahap karena besarnya keterbukaan ekosistem, sifat alam dan
keterkaitan obyek-obyek yang melekat pada mangrove.
Jumlah produksi Ikan Kerapu yang ada disekitar kawasan Teluk Kotania yaitu 92 kg/bulan dengan harga jual pasar Rp. 50 000,-/kg. Total nilai produksi/tahunnya dari Ikan Kerapu di kawasan Teluk Kotania sebesar Rp. 55.200. 000,- Sedang Ikan Samandar yaitu 92 kg/bln dengan harga jual pasar Rp. 30.000,-/kg total nilai produksi Ikan samandar dalam 1 Tahun Rp. 33.120.000,-. Di kawasan Teluk Kotania dapat juga dijumpai biota laut lainnya yaitu Kepiting Bakau, Kepiting ini di pasaran dibagi dalam beberapa kelas komoditi sesuai dengan ukuran kepiting tersebut mulai dari Kepiting Kelas 1 (Super) sampai dengan Kepiting Kelas 5 ( Kacangkacang). Kepiting kelas 1 (Super) jumlah produksi tiap bulannya yaitu 46 kg sehingga Total harga produksi per tahun sebesar Rp. 55.200.000,-
Sedangkan untuk Kepiting Kelas 5
(Kacangkacang) dengan jumlah produksi perbulan adalah sebesar 69 kg dengan
harga jual di pasaran udang yang dijual yaitu Rp. 30 000,-/kg, sehingga total
nilai produksi udang yaitu sebesar Rp. 24.840.000,-/tahun. Selain ikan dan
kepiting ada juga biota laut yang merupakan Nilai guna langsung yaitu Lobster.
Walaupun jenis biota laut ini tidak sering menjadi bahan tangkapan nelayan di
kawasan Teluk Kotania karena populasinya tidak sebanyak ikan dan kepiting.
Jumlah produksi lobster selama 1 bulan adalah 10 kg, dengan harga jual di
pasaran sebesar Rp. 450.000,- / kg sehingga Total nilai produksi Lobster selama
1 Tahun yaitu sebesar Rp. 54.000.000,-. Dengan demikian maka Total jumlah nilai
produksi hutan mangrove dalam 1 (satu ) tahun sebesar Rp. 167.160.000,-
Sedangkan
Nilai Ekowisata diduga dengan menggunakan metode biaya perjalanan wisata, yang
meliputi biaya transport pulang pergi dari tempat tinggal ke tempat wisata
serta pengeluaran lainnya selama di perjalanan dan biaya makan jika diasumsikan
pengunjung selama setahun 2.520 orang, maka perhitungan biaya rekreasi selama 1
tahun adalah sebagai berikut : Rata – rata biaya rekreasi = Rp. 12.600.000,- /
210 orang = Rp. 60.000,-/ orang kunjungan.
Intrusi
air laut dapat terjadi secara alami melalui proses abrasi dan sedimentasi.
Selain itu, berbagai bentuk kegiatan manusia seperti pengambilan batu karang,
penebangan hutan bakau, pembuatan tambak, pembukaan lahan pemukiman dan
pengambilan air tanah yang tidak terkontrol juga menjadi penyebab utama
terjadinya intrusi air laut (Alfian 2004). Di Teluk Kotania berbagai kegiatan
yang dapat menyebabkan terjadi intrusi air laut yang disebabkan oleh aktivitas
manusia itu kecil kemungkinannya. Hal ini disebabkan karena frekuensi kegiatan
manusia yang dilakukan di dalam kawasan hutan sangat sedikit. Intrusi yang
terjadi di kawasan hutan mangrove Teluk Kotania sebagian besar terjadi secara
alami. Fungsi fisik sebagai pemecah gelombang ini dapat didekati dengan cara
menghitung biaya yang dilakukan untuk membangun Pengamanan pantai disepanjang
pantai yang dilindungi hutan mangrove.
Nilai
pilihan hutan mangrove diestimasi dengan menggunakan metode Benefit Transfer.
Metode tersebut didekati dengan cara menghitung besarnya nilai keanekaragaman
hayati (biodiversity) yang ada di ekosistem hutan mangrove. Menurut Ruitenbeek
(1991) dalam Fahruddin (1996) nilai keanekaragaman hayati (biodiversity) hutan
mangrove di Indonesia, yaitu US$ 1 500/km2 atau US$ 15/ha/tahun. Estimasi nilai
guna pilihan dari hutan mangrove yaitu dengan mengalikan nilai biodiversitas
dengan luas hutan mangrove di pesisir pantai. Nilai tukar dolar AS terhadap
rupiah dengan nilai jual sebesar Rp. 14.212,- sedangkan nilai beli 14.070,-
sehingga rata – rata nilai tukar dolar terhadap rupiah adalah Rp. 14.141,- (
pada Juni 2019 ). Nilai pilihan hutan mangrove Teluk Kotania berdasarkan kurs
rupiah terhadap dolar adalah sebesar Rp. 212.155,-/ tahun, di kali dengan luas
hutan mangrove di Teluk Kotania yang berdasarkan klasifikasi unsupervised dari
citra satelit Landsat 8 path 109 row 62 sebesar : 771,07 ha. Maka nilai pilihan
hutan mangrove adalah sebesar: Rp.163.586.356,
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Besarnya Nilai ekonomi Hutan mangrove di Teluk
Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat adalah sebagai berikut: manfaat langsung
sebesar manfaat langsung Rp.318.360.000,-/tahun (44%), manfaat tidak langsung
Rp. 243.468.473,-/ tahun (34 %), manfaat pilihan Rp. 163.586.356,-/ tahun (
22%) sedangkan TEV-nya sebesar Rp. 725.414.829,-/tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar,
C ., Gunawan, H. 2006. Peranan Ekologis dan Sosial Ekonomi Hutan Mangove dalam
mendukung Pembangunan Wilah Pesisir Pada Kelti Konservasi Sumberdaya Alam Pusat
Litbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor. Bogor.
Alfian,
M. 2004. Valuasi Ekonomi Konservasi Hutan Mangrove untuk Budidaya Tambak di
Kecamatan Tinanggea Sulawesi Tenggara (Tesis). Bogor. Sekolah Pasca Sarjana
Institut Pertanian Bogor.
Fadhlan,
M. 2010. Pengaruh Aktivitas Penduduk Terhadap Tingkat Kerusakan Ekosistem Hutan
Mangrove di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan (Skripsi). Jurusan Geografi,
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.
Fahrudin, A. 1996. Analisis Ekonomi
Pengelolan Pesisir Kabupaten Subang. Jawa Barat. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana,
Institut Pertanian Bogor.
Hiariey, S. L. 2009. Identifikasi Nilai
Ekonomi Ekosistim Hutan Mangrove di Desa Tawiri, Uniersitas Terbuka.
Pattimahu, D. V. 2010. Kebijakan
Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan di Kabupaten Seram Bagian Barat,
Maluku. Disertasi Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Pramudji, 1998. Telaah Ekologi Mangrove
di daerah Tawiri, Teluk Ambon. Teluk Ambon II: Biologi, Perikanan, Oseanografi
dan Geologi. Balai Penelitian dan Pengembangan Sumber daya Laut, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia .hal 45-52.
Ruitenbeek, H.J. 1991. Magrove
management, An economic analysis of management option with a focus on Bituni
Bay, Irian Jaya. Environmental Management Development in Indonesia (EMD)
Project. EMDI Environmental. Reports No. 8. Jakarta.
Suib, L.R., Hutabarat, W. 2016. Analisis
Aktivitas Ekonomi Penduduk Terhadap Kerusakan Ekosistim Hutan Mangrove di Desa
Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Laporan
Penelitian, Universitas Negeri Medan.
